VULKANISME SEBAGAI PENYUBUR TANAH

Pemanfaatan sistem satuan geomorfologi di bidang pertanian
“VULKANISME SEBAGAI PENYUBUR TANAH”
(A’isatur Rahmah Aprilia / 1625010120)

Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk muka bumi beserta aspek-aspek yang mempengaruhinya. Proses geomorfologi terjadi karena adanya suatu gaya endogen dan eksogen. Gaya endogen merupakan gaya yang berasal dari dalam bumi dapat bersifat cepat terjadi dan lambat terjadi. Contoh fenomena alam akibat adanya gaya endogen yang terjadi secara cepat adalah gempa bumi dan gempa vulkanik. Gempa vulkanik terjadi karena adanya gunung api yang meletus atau mengeluarkan magma. Gunung merapi terbentuk karena adanya lubang di permukaan bumi yang mengeluarkan magma dari dalam bumi. Material yang dikeluarkan tersebut dapat menguntungkan dan merugikan manusia. Dampak positif dari vulkanisme ini adalah tanah disekitar gunung api menjadi subur.

Bentukan Asal
Secara umum bentukan asal geomorfologi di Indonesia dapat dibedakan atas delapan bentukan asal, yaitu :
a.   Bentukan Asal Vulkanik ( Form Of Volcanic Origin)
Bentukan ini bersal drai aktifitas gunung apai dan intrusi magma, baik berupa akumulasi material lepas (piroklastik) seperti lava, ladu, ataupun abu volkanik serta intrusi magma lainnya.
b.   Bentukan Asal Struktural (Form Of Structural Irigin)
Bentukan ini merupakan bentuk yang dihasilkan pleh struktural geologi, mulai drai kenampakan yang besar dan dominan sampai kenampakan yang kecil yang berpengaruh pada masing-masing bentukan.
Ada dua tipe utama struktur geologi yang memberikan kontrol terhadap geomorfologi yaitu :
1)  Struktur aktif, yaitu bentuk yang dihasilkan merupakan bentukan baru.
2)  Struktur tidak aktif yaitu bentukan lahan yang dihasilkan dipengaruhi oleh perbedaan erosi masa lalu.
c.   Bentukan Asal Denudasional (Form Of Denudational Origin)
Bentukan ini terjadi karena gradasi yang meliputi prosese agradasi dan degradasi. Proses ini bila berlangsung dalam waktu lama dapat merubah permukaan bumi menjadi suatu dataran yang seragam. Dalam perubahan bentul permukaan bumi proses yang paling dominan adalah proses degradasi yang ditunjukan oelh hilangnya lapisan demi lapisan dari permukaan bumi akibat terjadinya pekapukan batuan yang terangkut oleh erosi dan longsoran. Bentukan lain dari proses denudasioanl adalah agradasi, yaitu berbagai proses sedimentasi dan pembentukan lahan baru sebagai material endapan dari proses degradasi.
d.   Bentukan Asal Kart / Karstik (Form Of Karst / Karstic Origin)
Bentukan ini tersususn dari batuan yang terdiri atas batuan kapur yang bersifat mudah larut oleh air secara alamiah baik oleh aliran permukaan, aliran vertikal ataupun aliran di bawah permukaan.
e.   Bentukan Asal Glasial (Form Of Glacial Orogin)
Bentukan ini dicirikan oleh akumulasi hamparan es yang terjadi pada daerah dengan temperatur di bawah -4oC.
f.    Bentukan Asal Angin (Form Of Aeolin Origin)
Bentukan ini terjadi karena aktifitas tenaga angin.
g.   Bentukan Asal Aluvial (Form Of Fluvianl Orogin)
Bentukan ini merupakan hasil proses fluvial dengan bahan induk berupa luvium sampai koluvium serta berumur relatif muda.
h.   Bentukan Asal Marin (Form Of Coastal Origin)
Bentukan ini sangat dipengaruhi oleh berbagai aktifitas-aktifitas air laut, angin laut, gelomang, dan pasang surut laut sehingga termasuk salah satu bentuk yang dapat mengalami perubahan cepat.

Proses Terbentuknya Gunung Api


Tenaga tektonik dapat mengakibatkan gejala vulaknisme. Vulkanisme merupakan fenomena alam yang berhubungan dengan aktivitas keluarnya magma ke permukaan bumi. Keluarnya magma ini dapat membentuk menjadi gundukan atau timbunan kerucut yang tersusun atas batuan beku lelehan atau bahan gunung api lepas (piroklastik) yang biasa disebut Vulcano (Gunung Api). Proses keluarnya magma ke permukaan bumi akibat tekanan dari dalam bumi melalui celah atau lubang disebut erupsi gunung api. Proses vulkanisme terjadi karena adanya magma yang keluar dari zona tumbukan antar lempang. Beberapa gunung api ditemukan berada di tengah lempeng yang disebabkan oleh tersumbatnya panas di kerak bumi gejala ini disebut titik panas (hotspot). Jadi dapat diketahui bahwa gunung api terbentuk akibat adanya lubang di permukaan bumi yang mengeluarkan magma dari dalam bumi akibat adanya tumbukan antar lempeng.
Gunung api terbentuk pada empat busur, yaitu busur tengah benua, terbentuk akibat pemekaran kerak benua; busur tepi benua, terbentuk akibat penunjaman kerak samudara ke kerak benua, busur tengah samudera, terjadi akibat pemekaran kerak samudera dan busur dasar samudera yang terjadi akibat terobosan magma basa pada penipisan kerak samudera.
Pengetahuan tentang tektonik lempeng merupakan pemecahan awal dari teka-teki fenomena alam termasuk deretan pegunungan, benua, gempa bumi dan gunung api. Planet bumi mepunyai banyak cairan dan air di permukaan. Kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi pembentukan dan komposisi magma serta lokasi dan kejadian gunung api.
Berdasarkan proses terjadinya vulkanisme dibagi dalam 3:
1.    Vulkanisme letusan : dikontrol oleh magma yang bersifat asam yang kaya akan gas, bersifat kental dan ledakan kuat. Vulkanisme ini biasanya menghasilkan material piroklastik dan membentuk gunung api yang tinggi dan terjal.
2.   Vulkanisme lelehan : dikontrol oleh magma yang bersifat basa sedikit mengandung gas, magma encer, dan ledakan lemah. Vulkanisme ini biasanya menghasilkan gunung api yang rendah.
3.  Vulkanisme campuran : dipengaruhi oleh magma intermediet yang agak kental. Vulkanisme ini menghasilkan gunung api strato.

Terbentuknya Gunung Api di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai gunung api terbanyak di dunia. Deretan gunung api tersebut berada dalam jalur tektonik yang memanjang dari pulau Sumatra , jawa, nusa tenggara, kepulauan Banda, Halmahera, dan kepulauan Sangid Talaud. Berkumpulnya gunung api di Indonesia karena Indonesia tepat berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik raksasa yakni lempeng pasifik, Hindia Australia, dan Eurasia.

Wilayah sepanjang garis pertemuan ini dikenal dengan sebutan busur Cincin Api Pasifik. Persebaran gunung berapi di Indonesia dapat dilihat dalam peta persebaran gunung berapi di bawah ini. Gunung berapi disekitar pulau jawa dan Sumatra terbentuk akibat pertemuan atau tumbukan lempeng Hindia Australia dengan lempeng Eurasia. Adapun gunung berapi di sebelah utara pulau jawa terbentuk akibat tumbukan lempeng Pasifik dan Eurasia. Lempeng raksasa ini terus bergerak sepanjang waktu. Setiap tarikan atau tumbukan lempeng berpengaruh terhadap aktivitas vulkanik gunung di sepanjang garis lempeng ini. Sering kali gempa tektonik akibat pergeseran lempeng menimbulakan pula gempa vulkanik dalam perut gunung. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa gesekan anatara batuan yang disertai panas tinggi dapat memicu peningkatan energi cairan dalam perut gunung yang berbentuk gas, magma atau uap.
Peningkatan energi akibat pergerakan lempeng inilah yang disebut aktivitas gunung berapi. Sepanjang pergerakan lempeng terus terjadi maka sepanjang itu pula semua gunung berapi di Indonesia yang terpancang diatasnya akan terus menggeliat aktivitasnya dan kelak tentu akan meletus. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa naik turunnya tingkat aktivitas suatu gunung akan seiring dengan  efek pergerakan lempeng di bawahnya. Oleh sebab itu secara tiba-tiba status gunung bisa berubah-ubah yaitu meningkat menjadi waspada atau malah menurun menjadi aktif kembali.


Material Keluaran Gunung Berapi
Material yang dikeluarkan saat terjadi erupsi atau meletusnya gunung api ada bermacam-macam. Secara umum kita akan menggolongkannya menjadi tiga macam, yakni material cair, padat dan gas.
a.   Material Cair
Magma yang terkandung di dalam dapur magma akan keluar ke permukaan bumi dalam keadaan cair bila saat keluarnya magma tersebut tidak ada hambatan atau tidak tersumbat. Material cair tersebut antara lain:
1)  Lava adalah magma yang meleleh keluar dari gunung api.
2)  Lahar panas merupakan campuran magma dan air yang kemudian mengalir seperti lumpur panas.
3)  Lahar dingin merupakan campuran material padat (Efflata) dan air hujan yang kemudian menjadi lumpur yang mengalir menuruni lereng gunung.
b.  Material Padat (Efflata)
Material padat yang dikeluarkan oleh gunung api saat meletus atau terjadinya erosi antara lain bom (batu besar), terak (batu yang ukurannya tidak beraturan & lebih kecil dari bom), lapili (kerikil), debu, batu apung dan pasir. Material padat itu sendiri berasal dari dua kemungkinan, yaitu:
1)    Efflata allogen, yakni material padat yang berasal dari batu-batuan di sekitar kawah yang ikut terlempar ketika terjadi letusan gunung api.
2)    Efflata autogen (Pyroclastica), yaitu material yang terbentuk dari magma yang membeku akibat pendinginan.
c.   Material Gas (Ekshalasi)
Material gas yang dikeluarkan oleh gunung api saat terjadi letusan antara lain:
1)    Fumarol, berbentuk uap air (H2O).
2)    Solfatar, berbentuk gas belerang (H2S).
3)    Mofet, berbentuk gas asam arang (CO2). Mofet merupakan gas beracun. Massa jenis yang lebih berat daripada massa oksigen membuat mofet bisa beredar tak jauh dari permukaan bumi akibatnya memiliki peluang yang besar akan terhirup oleh makhluk hidup.

Vulkanisme yang menyuburkan tanah


Aktivitas vulkanisme dapat mempengaruhi kesuburan tanah karena vulkanisme ini mengeluarkan material-material yang terkandung di dalam perut bumi. Saat peristiwa vulkanisme terjadi, abu vulkanik yang dikeluarkan oleh gunung mengandung banyak material yang bisa membuat tanah menjadi subur. Awalnya memang abu ini bersifat merusak tanaman karena menutupi tanaman. Namun pada jangka waktu satu hingga dua tahun, tanah ini akan menjadi subur. Dan dalam jangka waktu yang lebih lama, tanah ini akan semakin subur. Hal ini karena abu vulkanik yang dikeluarkan pada saat peristiwa vulkanisme ini mengandung banyak unsur hara yang dapat menjadikan tanah menjadi subur.


SPATIAL STATISTICS

SPATIAL STATISTICS

Statistik Spasial adalah segala teknik analisis untuk mengukur distribusi suatu kejadian berdasarkan keruangan (Scott & Warmerdam, 2006). Keruangan yang dimaksud disini adalah variabel yang ada di permukaan bumi seperti kondisi topografi, vegetasi, perairan, dll.
  • Pola distribusi spasial secara umum terbagi menjadi tiga:
1) Acak (Random) yaitu titik-titik muncul pada lokasi yang acak dan posisi satu titik dengan titik    lainnya tidak saling terkait.
2) Menyebar (Dispersed) yaitu setiap titik berjauhan satu sama lain atau secara jarak tidak dekat secara bermakna.
3) Mengelompok (Clustered) yaitu beberapa titik terkonsentrasi berdekatan satu sama lain dan ada area besar yang berisi sedikit titik yang sepertinya ada jarak yang tidak bermakna.



Statistik Deskriptif klasik: Univariate (Satu variable)

·         Pusat Tendensi: Ringkasan untuk ukuran satu variable tunggal :
ü  mean (rerata)
ü  median (nilai tengah)
ü  mode (yang paling sering muncul)
·         Dispersi: ukuran sebaran atau variabilitas
ü  Variance (variasi)
ü  Simpangan baku
B. Classic Descriptive Statistics: Bivariate
Contoh Koefisien Korelasi menggunakan “rumus perhitungan”



Statistik kesimpulan dan statistik dapat disimpulkan
Berkaitan dengan membuat kesimpulan dari sampel tentang populasi
Ø  Kegunaan Statistik Spasial:
     1)    A measure of what’s going on spatially (Pengukuran terhadap suatu distribusi secara keruangan)
     2)    Identifying characteristics of a distribution (Identifikasi karakteristik dari suatu distribusi)
     3)    Quantifying geographic pattern (Kuantifikasi pola geografis).

 Hubungan spasial antara dua distribusi dapat digambarkan secara kuantitatif dengan penghitungan kedekatan jarak antar dua sebaran dengan beberapa metode sebagai berikut:
         1)      Quadrant Count method
§  For an uniform distribution, the variance is zero.
               Therefore, we expect a variance-mean ratio close to 0
§  For a random distribution, the variance and mean are the same.
Therefore, we expect a variance-mean ratio around 1
§  For a clustered distribution, the variance is relatively large
Therefore, we expect a variance-mean ratio above 1

       2)      Nearest neighbor distance
Uses distances between points as its basis.  Compares the mean of the distance observed between each point and its nearest neighbor with the expected mean distance that would occur if the distribution were random:
            NNI=Observed Aver. Dist / Expected Aver. Dist
§  For random pattern,      NNI = 1
§  For clustered pattern,    NNI = 0
§  For dispersed pattern,   NNI = 2.149

Ø Kelebihan lain dari statistik spasial menurut Scott & Warmerdam (2006) yaitu;
       a)      Diperolehnya pemahaman yang lebih baik mengenai fenomena goegrafis dari suatu kejadian;
       b)      Diketahuinya dengan tepat penyebab suatu kejadian berdasarkan pola geografis yang spesifik;
       c)      Disimpulkannya distribusi kejadian berdasarkan satuan data;
       d)     Diperolehnya keputusan yang lebih baik dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi.

MODELLING SIG

MODELLING SIG

Model dibuat karena adanya kompleksitas kenyataannya. Suatu model adalah gambaran penyederhanaan dari keadaan-keadaan yang sebenarnya. Kerangka pemodelan grafis yang terkait dengan fungsi GIS yang sebenarnya. Fungsi, Data, Model Numerik, Alat, dll. Model untuk secara otomatis mengekstrak lapisan data lingkungan untuk analisis spatio-temporal.
Anatomi Model Analisis GIS:
·  Membandingkan beberapa model GIS untuk mengilustrasikan pendekatan pemodelan analisis yang berbeda
·      Membandingkan berbagai tingkat hasil dari model ini
·      GIS hanya sebagus datanya
·      SIG hanya sebaik ekspresi datanya
Dalam membuat model gis dilakukanlah pendugaan terhadap kondisi lahan tersebut seperti elevasi, jenis tanah, vegetasi, curah hujan, faktor kritis lainnya dapat dipertimbangkan: fisik: tipe batuan dasar, kedalaman untuk sesar; gangguan: area konstruksi, akan menghubungkan?; lingkungan: frekuensi badai, pola hujan ;musiman: siklus beku dan mencair di musim semi; historis: peristiwa gempa di masa laludan lain-lain.

MODEL BUILDER
Model Builder adalah sebuah aplikasi untuk membuat, mengedit, dan mengelola model. Model adalah cara untuk menerangkan suatu proses dengan menyederhanakan obyek dan kinerjanya. Dengan menggunakan Model Builder direpresentasikan dengan bentuk aliran atau flow chart yang memudahkan dalam memahami proses dari sebuah model. Model Builder terdiri dari tiga komponen; elements, connectors, dan text labels. Elements adalah data dan tools yang digunakan, connectors adalah garis yang menyambungkan data dengan tools, text labels dapat di asosiasikan dengan keseluruhan model, masing-masing elements maupun connectors.

     Elements dalam Model Builder terbagi menjadi 2 jenis yaitu tools dan variables. Tool  elements di gambarkan dalam bentuk persegi, biasanya tool elements diambil dari  Arc  Toolbox. Variables di gambarkan dalam bentuk oval. Variablesterbagi menjadi 2 tipe: data dan values. Data variables merupakan data yang tersimpan dalam disk atau layer yang tampak pada table of contents ArcMap. Values variables (nilai variabel) adalah angka, teks, referensi spasial dan geographic extents. Ada 2 tipe Values variables yaitu: input dan derived. Connectors model builder terdiri dari empat tipe: Data, Environment, Precondition, and Feedback. Connector arrows menunjukkan arah dari proses. Text labels dalam model builder digunakan sebagai keterangan tambahan pada variabletool, maupun connector model element.
·      Model Binary merupakan model yang menggunakan pengharkatan biner yaitu 0 atau 1. Hasil yang diperoleh dari permodelan biner cenderung bersifat mutlak. Pendekatan binary ialah pendekatan yang menghasilkan peta hanya dua pilihan saja yaitu sesuai dan tidak sesuai. Lahan yang sesuai diberi nilai 1, jika seluruh kriteria sesuai dengan syarat yang ditetapkan. Lahan yang tidak sesuai diberi nilai 0, jika salah satu parameter tidak memenuhi syarat maka langsung masuk ke dalam kelas yang tidak sesuai.

·      Model Ranking adalah model yang paling sederhana untuk pemberian nilai bobot. Intinya setiap parameter akan disusun berdasarkan ranking.  Penentuan ranking bersifat subjektif, dan sangat dipengaruhi oleh persepsi pengambil keputusan. Penentuan ranking dapat dilakukan secara langsung, misalnya parameter paling penting diberi nilai 1, parameter penting diberi nilai 2 dan parameter kurang penting diberi nilai 3, atau  dapat  juga dengan pendekatan kebalikan misalnya parameter kurang penting diberi nilai  1, penting  diberi nilai 2 dan  paling  penting  bernilai  3.

·      Rating model


·      Weighted Rating Model

Analisis SIG dan Model

Analisis SIG dan Model

Analisis SIG dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi analisis spasial dan attribut yang dilakukan, serta kemampuan memberi jawaban-jawaban atau solusi yang diberikan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hasilnya yang berupa informasi baru disajikan dalam bentuk tabel , diagram, peta, atau kombinasinya.Kemampuan analisis data spasial SIG meliputi,
a. Kemampuan menjawab pertanyaan konseptual
SIG diharapkan mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut :
·      What is at......? (pertanyaan lokasional; apa yang terdapat pada lokasi tertentu)
·      Where is it...........?(pertanyaan kondisional; lokasi apa yang mendukung untuk kondisi/fenomena tertentu)
·      How has it changed.......?(pertanyaan kecendrungan; mengidentifikasi kecenderungan  atau peristiwa yang terjadi)
·      What is the pattern ........ ? (pertanyaan hubungan; menganalisis hubungan keruangan antar objek dalam kenampakan geografis)
·      What if.......? (pertanyaan berbasiskan model; komputer dan monitor dalam kondisi optimal, kecocokan lahan, resiko terhadap bencana, dll. berdasar pada model)
·      Which is the best way ……..? (pertanyaan route optimum)
b. Kemampuan Fungsi Analisis
Fungsi-fungsi analisis yang dapat dilakukan secara umum terdapat 2 jenis fungsi
analisis, yaitu fungsi analisis spasial dan fungsi analisis attribut (basisdata attribut).
Fungsi analisis spasial meliputi :
- Pemanggilan data
- Generalisasi
- Abstraksi
- Manipulasi Koordinat
- Buffer
- Overlay dan Dissolve
- Pengukuran
- Grid
- Model Medan Digital (Digital Elevation Model)
c. Fungsi analisis data attribut :
- membuat basisdata baru (create database)
- Menghapus basisdata (drop database)
- Membuat tabel basisdata (create table)
- Menghapus tabel basisdata (drop table)
- Mengisi dan menyisipkan data (record) kedalam tabel (insert)
- Membaca dan mencari data (field atau record) dari tabel basisdata (retrieve)
- Mengubah dan mengedit data yang terdapat di dalam tabel basisdata (update, edit)
- Menghapus data dari table (pack)
- Membuat indeks untuk setiap tabel basisdata

Fungsi analisis spasial menjelaskan variasi fungsi analititk dan fungsi pemrosesan data yang dapat melakukan otomasi data spasial (keruangan).
1. Pemanggilan/penelusuran Data (data retrieval)
Rangkaian teknik meliputi ekstraksi dasar, query dan manipulasi informasi Boolean (true and false) yang terdapat dalam mengorganisasikan sistem informasi geografis (SIG). Teknik ini merupakan ekstraksi dasar tentang data, penelusuran data (query), dan manipulasi logik dari informasi yang terdapat pada SIG.
Penulusuran Basisdata SIG terdiri dari :
a. Penelusuran Data Attribut menghasilkan (Posisi) Data Spasial
b. Penelusuran (posisi) Data Spasial menghasilkan Data Attribut
Pemanggilan data dapat dibagi 5 teknik, yaitu :
A. Pengaturan Tampilan
Teknik ini mengatur susunan tampilan data grafis dan data attribut sesuai setting CRT/layer monitor.
B. Penayangan berdasarkan window
Fasilitas ini menayangkan data grafis dan data attribut berdasarkanwindow-window dalam koordinat x,y yang ditentukan.
C. Penelusuran Data Spasial menggunakan posisi dan bentuk liputan bebas berupa titik, lingkaran, persegi panjang, dan poligon.
a. Titik
b. Radius lingkaran
c. Rektanguler
d. Polygon
· Pass Thru
· Within
· Clip
D. Penelusuran pada beberapa lembar peta
Penelusuran seperti pada IC tetapi pada beberapa layer peta yang berhubungan.
E. Penelusuran berdasarkan operasi logik dan operasi aritmatik
Penelusuran berdasarkan kriteria tertentu dengan menggunakan operasi logik atau operasi aritmatik.
1. Operasi Logik
a. Boolean : and, or, nor, xor
A and B A not B
A nor B A xor B
b. Algebra : =, <, >, >=, <=
2. Operasi Aritmatic : +, -, *, n, /, Ö, sin, cos, tan
2. Generalisasi Peta (Map generalization)
Rangkaian generalisasi (penyederhanaan) yang sering digunakan ketika merubah skala peta.
A. Generalisasi pada Garis
Penyederhanaan bentuk garis dengan cara mengurangi vertex.
B. Generalisasi pada Poligon
Penyederhanakan bentuk polygon dengan mengurangi vertex. Ini hampir sama dengan IIA, tetapi lebih komplek dan perlu memperhatikan :
-          bentuk/batas poligon, akurasi koordinat
-          poligon yang sebagai polygon sliver
-          gap jika dilakukan overlaping dengan poligon lain.
C. Penghapusan garis batas polygon
teknik ini dilakukan jika batas dari dua polygon sama karakteristiknya digabung menjadi satu polygon.
D. Penyesuaian tepi untuk penggabungan peta
Menggabung beberapa peta yang berbatasan dengan peta berikutnya.
3. Abstraksi Peta (Map abstraction)
Abstraksi peta berasosiasi dekat dengan generalisasi peta tapi meliputi lima bentuk
teknologi yang berbeda.
·         Menghitung/membuat titik tengah polygon
·         Konturing secara automatis dari data spasial random
·         Polygon Thiessen
·         Reklasifikasi
·         Konversi data koordinat x,y ke format grid (row, col).
4. Manipulasi Lembar peta (Map sheet manipulation)
Rangkaian teknik manipulasi koordinat x,y yang diberikan pada satu lebar (sheet) peta.
A. Merubah skala
skala 1 : 25.000 à 1 : 10.000
B. Transformasi
biasa digunakan untuk teknik penyambungan peta, transformasi orde 2 atau orde 3 ke orde 1/linier.
C. Merubah Proyeksi
merubah satu sistem proyeksi sistem ke proyeksi lain, ex : Geographic ke UTM atau sebaliknya.
D. Rotasi dan Translasi peta,
sering terjadi ketika merubah sistem proyeksi dan transformasi peta.
5. Buffer (Buffer generation)
Turunan buffer meliputi kreasi poligon baru dari kenampakan titik, garis dan polygon dalam bank data.
Membuat polygon baru dengan jarak di dalam jarak “x” unit, dari :
A. titik
B. garis
C. polygon.
6. Overlay Poligon dan Dissolve (Polygon overlay and dissolve)
Overlay poligon dan teknik dissolve meliputi komposit (integrasi) atau ekstraksi (disintegrasi) dari multi peta (dua atau lebih) untuk membuat sebuah data set baru.
A. Overlay Poligon
Informasi/dataset/poligon baru dihasilkan dari hasil interseksi batas-batas dari 2 atau lebih poligon dari poligon tiap layer. Poligon baru hasil overlay ditandai oleh gabungan data atribut poligon-poligon teroverlay (data atribut tambahan harus diberikan sebelum dilakukan overlay). Untuk menterjemahkan hasil overlay perlu dibuat ‘model interpretation’, contoh kesesuaian lahan/kemampuan lahan.
B. Membuat peta dari attribut tunggal
Kebalikan dari overlay kemampuan dissolve untuk membuat data attribut (attribut tunggal) menjadi peta baru. Sama dengan IIC.
C. Overlay poligon untuk perhitungan luas.
Overlay yang hanya mencari luas (area dan perimeter), data attribut lain tidak begitu diperhatikan, ex : berapa luas sawah di kab. Sleman (hasil overlay peta penggunaan lahan dan administrasi)
7. Pengukuran (Measurement)
Pengukuran yang umum ada empat tipe meliputi titik, garis, poligon, dan volume. Pengkuran meliputi :
A. Titik/lokasi
B. Jarak (panjang/lebar)
C. Luas/Area
D. Volume.
8. Analisis Grid Sel (Grid cell analysis)
Teknik manipulasi data ini mirip dengan analisis peta yang diberikan dalam struktur data koordinat x,y, tetapi lebih mempunyai generalisasi resolusi spasial.
A. Analisis route
Menentukan jarak terendah dari dua titik.
B. Perhitungan Jarak
Menghitung jarak tertentu terhadap suatu titik. Biasa digunakan untuk analisis network.
C. Penentuan Jarak berdasarkan radius lingkaran
Teknik ini menentukan polygon baru berdasarkan radius dari titik yang ditentukan. Biasanya digunakan untuk analisis allocate.
D. Perhitungan luas hasil overlay
Sama dengan Overlay pada gambar VIC, kecuali ini digunakan pada grid sel.
E. Overlay sel grid
Overlay beberapa peta untuk menghasilkan peta komposit. Overlay beberapa layer peta, menghasilan nilai numerik baru.
9. Model Medan Digital (Digital terrain analysis)
Meliputi komputasi variasi output dari sebuah DEM (digital elevation model).
A. Penayangan DTM
B. Konturing
C. Lereng/aspek/sun intensity
D. Penyadapan data DAS : batas DAS, puncak dan lembah, pola aliran, (Perhitungan aliran permukaan)
E. Visibility
10. Teknik Luaran (Output techniques)
Teknik dasar format keluaran (output) dari sebuah Sistem Informasi Geografis (SIG): peta cetak, tabulasi statistik, display peta dan atribut, file digital data dari manipulasi data geografi.
Bentuk luaran SIG :
A. Peta hardcopy
B. Tabel statistik
C. Penayangan interaktif (data attribut dan data grafis) pada CRT à Query (I)
D. File komputer.

Referensi
Bonham-Carter, 1996, Geographic Information System for GeoSientist (Modelling with GIS),
Pergamon, Canada
ESRI, 1998, Spatial Analyst, Environmental Systems Research Institute (ESRI) Inc., Redlands
California USA.
Jack Dangermond, 1990, Introductory readings in Geographic Information System, edited by Donna J Peuquet & Duane F. Marble, Environmental Systems Research Institute,
Taylor & Francis London*New York*Philadelphia.
Zeiler M., 1999, Modeling Our World, Environmental Systems Research Institute (ESRI) Inc., Redlands California USA.